AIKDEWA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH LOKAL

Aikdewa merupakan sebuah nama yang terdiri dari dua suku kata yaitu ”Aik” yang artinya Air dan ”Dewa” yang artinya Kekuatan Suci yang Dipuja. Tentunya jika kita berbicara sejarah tidak akan luput dari adanya cerita Mitos yang berkembang secara turun temurun. Ada Dua Versi Sejarah Lokal Desa Aikdewa yaitu :
- Legenda Versi Islam
Aikdewa merupakan daerah yang subur karena diapit oleh mata air yang mengalir sepanjang tahun. Mata air tersebut antara lain : mencerit di sebelah Utara Timur Laut dan Bumbang di sebelah Barat Laut, Aikdewa di Sebelah Barat, Aik Kelep dan Aik Buling di sebelah Selatan Barat Daya.
Pada masa kejayaan kerajan Islam Selaparang yang diperintah oleh seorang raja yang arif bijaksana dan memiliki ilmu agama yang tinggi sehingga baginda raja diberi gelar “ Datu Pengulu Alim”, yaitu seorang Raja dan sekaligus Ulama Arifbillah. Tak heran jika seluruh rakyat Selaparang sangat patuh dan segan sekaligus membanggakan raja yang memiliki berbagai kekeramatan itu.
Konon pada suatu ketika raja memanggil para pejabat istana untuk bermusyawarah di Balai Bencingah kerajaan, seluruh tokoh istana hadir untuk membicarakan situasi kekeringan yang melanda wilayah kerajaan bagian Timur yang menjadi pusat kerajaan. Berdasarkan kesepakatan seluruh tokoh kerajaan, Ekspedisi akan dilakukan untuk mencari lahan yang subur dan di arahkan ke wilayah kerajaan bagian barat.
Maka beberapa hari kemudian rombongan ekspidisi yang dipimpin langsung oleh sang raja berangkat ke arah barat. Di tengah perjalanan rombongan besar ini, dibagi menjadi tiga rombongan yaitu satu rombongan ke arah utara, satu rombongan ke arah selatan , satu rombongan ke arah barat dibawah pimpinan langsung sang raja yang bijak lestari.
Menurut satu visi tulisan Sejarah Lokal Lombok, Rombongan yang ke selatan tersebut sampai ke daerah Pancor dan Kelayu. Rombongan Datu Pengulu Alim terus berjalan kearah barat dan tepat Waktu Sholat Dhuzur tiba rombongan berada di bagian sebuah kawasan hutan dan beristirahat untuk menunaikan sholat dhuzur.
Raja memerintahkan rombongan untuk mencari air yang akan digunakan berwudlu dan minum. Beberapa pengawal diperintahkan oleh Raja untuk menyebar mencari sumber air namun setelah beberapa lama hingga waktu dhuzur hampir berakhir para pengawal belum menemukan sumber air. Para pengawal kembali ke rombongan dan melaporkan perihal sumber air yang belum ditemukan itu.
Mendengar laporan para pengawal Baginda manggut - manggut. Selanjutnya beliau berdiri menghadap kiblat sambil mengangkat tangan dan berdo’a disaksikan oleh seluruh rombongannya. Selesai berdo’a Baginda mengangkat tongkatnya yang berasal dari Dendeng (Semacam Bambu) dan ditancapkan ke tanah kemudian bersamaan dengan tercabutnya tongkat tersebut menyemburlah air besar dan bersih .
Melihat keadaan tersebut anggota rombongan tersentak bahagia dan serentak mereka meneriakan Aik Do’a, Aik Do’a. Mendengar teriakan tersebut, baginda memberikan nama mata air tersebut adalah Aik Do’a. Inilah cerita legenda yang diceritakan turun temurun dari Visi Islam.
Sejarah berkembangnya Islam di Aikdewa jauh mendahului masa atau zaman Ekspansi kerajaan – kerajaan Bali Hindu ke Pulau Lombok .
Dengan adanya mata air tersebut rombongan membuat tempat pemondokan sekaligus pemukiman yang dikenal dengan sebutan Repok Raden. Inilah pemukiman pertama Aikdewa .
Beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 2001 Bapak Tuan Guru Bajang (Gubernur NTB saat ini) dalam pengajian Akbarnya di masjid Nurul Iman Aikdewa mencoba mengembalikan nama itu menjadi nama Islam yaitu Ma’uddawa atau Aik Do’a yang artinya air obat .
- Legenda Versi Hindu
Dengan adanya mata air di sekitar wilayah Aikdewa terutama mata air Aikdewa sendiri, Seolah–olah alam mengundang sekelompok manusia untuk datang dan bermukim di sana. Setelah rombongan Baginda Raja Datu Pengulu Alim mendirikan pemukiman Repok Raden, maka lambat laut berdatangan kelompok manusia termasuk dari Pulau Lombok bagian Selatan (Jero Waru) yang memang sengaja mencari sumber air karena di landa kekeringan yang berkepanjangan.
Tercatat dalam sejarah tiga Kerajaan Hindu di Bali seperti : Karang Asem, Buleleng dan Kelungkung sangat berambisi melakukan exkspansi dan menguasai Pulau Lombok. Pada saat itu di Pulau Lombok ada beberapa daerah kedatuan yang tersebar di berbagai tempat, namun yang paling besar adalah Kedatuan Selaparang di Lombok Timur dan Kedatuan Pejanggik di Lombok Tengah. Kedatuan Selaparang bukan hanya dikenal di Pulau Lombok bahkan dikenal sebagai kerajaan terbesar Lombok yang termashur di Nusantara. Karena hampir seluruh wilayah Pulau Lombok takluk dibawah kekuasaan Raja Selaparang.
Beberapa kali tiga kerajaan Hindu Bali terlibat di pertempuran untuk merebut menguasai Lombok dan menaklukkan Selaparang, bahkan setelah mereka berhasil mendarat di Lombok melalui jalur yang berbeda, mereka terlibat pertempuran antara Prajurit Buleleng dan Prajurit Karang Asem di Pagesangan. Prajurit Boleleng kalah tangguh dibandingkan Prajurit Karang Asem sehingga yang berhasil membangun pusat pertahanan bahkan kerajan dipulau lombojk adalah Kerajaan Karang Asem yang berpusat di Cakra Negara, kemudian dibangun Pusat Pmerintahan atau Istana yang diberi nama Mayora.
Seiring dengan eksisnya kekuasaan dan kekuatan Karang Asem di Pulau lombok , mereka terus memperluas wilayah kekuasaandan penaklukkan. Raja Karang Asem Anak Agung Gde Ngurah membangun beberapa puri yang indah yang dapat kita saksikan sampai sekarang seperti Puri atau Taman Narmada, Suranadi, Lingsar bahkan kawasan Sesaot dan Aikbukak.
Ambisi Anak Agung Karang Asem untuk menaklukkan kerajaan selaparang tak pernah henti. Apalagi setelah berhasil membangun Cakra Negara sebagai pusat pertahanan. Hal ini sudah diketahui oleh Raja Selaparang, sehingga Raja Selaparang menjalin kerja sama pertahana dengan Kerajaan Taliawang di Sumbawa Barat. Taliwang mengirim serombongan pasukan besar di Selaparang untuk membantu melawan Ekspansi Karang Asem.
Selaparang membentuk tiga kekuatan untuk menghadang gerakan maju penyerangan Karang Asem. Satu kekuatan menghadang dari wilayah tengah tepatnya ditempatkan di Mamben, satu kekuatan lagi mengahadang dari wilayah selatan tepatnya disekitar Rumbuk serta satu kekauatan pertahanan lagi menghadang dari sebelah utara tepatnya disekitar pringgasela. Ketiga kekuatan pertahanan ini masing-masing disertai prajurit bala bantuan dari kerajaan Taliwang. Sehingga sebagai bukti sejarah ketiga desa ini sekarang masih berdiam diri, masyarakat Taliwang bahkan sudah menjadi Desa Tersendiri seperti Kemabang Kerang yang dulu menjadi bagian Mamben, Rempung yang dulunya menjadi bagian Pringgasela dan Siren serta Jantuk yang dulunya menjadi bagian Rumbuk.
Gelombang serbuan Karang Asem dengan kekuatan yang sangat besar dan dahsyat menyebabkan satupersatu daerah pertahanan selaparang jatuh ke tangan pasukan kerajaan Karangan Asem termasuk pertahanan dibagian utara yaitu diseputaran wilayah Pringgasela. Dengan didirikannya pusat pertahanan Anak Agung Gde Ngurah di Kotaraja maka pertahanan selaparang segera bias direbut dan segera diduduki. Mulailah pase pendudukan Hindu di wilayah Pringgasela sampai kerajan Karang Asem Lombok atau Cakra Negara yang menewaskan jendral Van Ham yang dimakamkan di Repok Rimbun sebelah barat mataram Mall sekarang.
Melihat mata air Aikdewa yang begitu bersih dan jernih dan berhasiat, orang-orang Hindu Bali (Karang Asem) memandangnya sebagai “Air Tirta” yang dalam Terminologi hindu berarti Air Suci Dewata dari Nirwana, bahkan dijadikan tempat “Betoya atau mengambil berkah Dewata”.
Mulailah intruksi antara orang islam yang sudah ditaklukkan dengan orang hindu yang menduduki Pringgasela. Namun orang hindu hanya membangun pemakluman di Pringgasela sedangkn didasan Aikdewa sendiri tidak ada orang hindu yang bermukim. Namun mereka mencetak dan merintis persawahan diseputaran RT. Dewa Sikin sekarang. dan membangun Pura dan Pesanggerahan diseputar mata air Aikdewa. Setelah Cakara Negara jatuh ketangan belanda dan anak Agung menyerah., maka semua peniggalan hindu di seputar mata air itu dihancurkan oleh orang Muslim Aikdewa. Bahkan orang-orang Hindupun di usir dari Pringgasela.
Pada masa pendudukan Hindu itulah terjadi pergesaran Nama Aik Do`a menjadi Aikdewa, dimana orang-orang hindu percaya baginda Datu Penghulu Alim Datu Selaparang itu merupakan penjelmaan “Dewa Dendeng“ atau “Dewa Air”. Orang-orang Hindu itupun memberikan nama-nama mata air tertentu disekitar wilayah Pringgsasela hanya tinggal nama yang diabadikan disuatu temapt, seperti Sema, Montong Ida Ayu, Dewa Sikin termasuk juga nama Aikdewa.
Nama Aikdewa masih bertahan sampai saat ini, karena sudah disebar luaskan oleh orang Hindu pada masa Karang Asem dahulu ke seluruh penjuru wilayah kekuasannya di Pulau Lombok. Bahakan dihadiri oleh Ummat Hindu dari berbagai tempat di Lombok ini pada masa dahulu. Sehingga nama Aikdewa begitu dikenal dan sulit diganti sampai sekarang.
|
|
Aikdewa, 01 November 2009
Inisiator Pembentukan Desa Aikdewa
|